The funniest people you meet, Are the most depressed. - @Factbook
Really?
Life is so weird and unfair.
Banyak orang kaya lebih suka menghabiskan uang buat beli cute stuff yang ga berguna, beli baju padahal di lemari udah numpuk, beli tiket pesawat yang super mahal cuma buat pergi belanja, beli bensin buat mobil cuma buat keliling ga jelas tanpa tujuan, daripada ngasi makan orang-orang homeless yang dia liat di pinggir jalan, yang cuma butuh paling 5000 rupiah yang ga bakal ngurangin tebel dompet mereka, ini hidup, nasib orang beda-beda, kebetulan aja kamu lagi ada di atas.
Andaikan suatu hari aku punya ability untuk dapat ngeluarin duit sesuka hati, aku gamau jadi kaya mereka.
Apalagi mereka kadang-kadang menghina orang homeless, bilang mereka males lah, kampungan, ini lah, itu lah. Udah ga bantuin, menghina lagi, mending diem aja ga sih mulutmu? Bukan selalu keinginan mereka juga kali jadi orang seperti itu. Hidup ini terkadang keras men.
Where the hell is your heart people?
"Ayah, Ibu, aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf. Untuk tidak pernah bercerita. Aku ingin, tapi aku tak bisa. Walaupun aku tersiksa. Aku tidak ingin, menjadi anak yang membuat kalian kecewa. Aku takut, kalian tak lagi ingin memberiku cinta.
Aku tidak pantas menjadi buah hati bagi orang tua sebaik kalian.
Aku tak ingin, masa laluku yang kelam membayangi hari tua kalian. Rasanya aku tidak pantas membuat kalian lelah lagi. Setelah bertahun-tahun kalian memberiku kasih sayang tanpa pamrih, aku merusak harapan kalian akan aku, dengan mudahnya.
Gambaran hidup sempurna yang telah kalian rancang dengan indahnya untukku, andai aku bisa mengulangnya.
Aku bodoh, Ibu.
Aku bodoh, ayah.
Aku munafik, Allah.
Semakin kamu menikmati dunia nyata, semakin kamu menghilang dari jejaring sosial - Dahlia A.
Sains membantu kita memahami banyak hal : melacak topan dan mengukur tinggi tsunami, tapi tak bisa membuat kita memahami rasa kehilangan. - Silma Kaffah
ketika kamu menjadi wanita yang sulit menerima sebuah cinta, ternyata kamu juga sulit melepasnya,
pernah aku bertanya pada seorang teman “bagaimana bisa kamu begitu mudahnya berganti cinta? benarkah semudah itu? apakah kamu tidak merasa berpura-pura?”
temanku menjawab “tentu saja aku berpura-pura, tentu saja aku masih mencintainya, dan aku masih sering menangis karenanya, tapi setidaknya kepura-puraan ini membuatku bahagia”
mendengar itu aku cuma bisa diam, aku tahu dibalik senyumnya adalah kepedihan sebenarnya, sama sepertiku
hanya saja, hatiku tidak ingin memilih jalan seperti itu, hatiku benci berpura-pura menyayangi, hatiku tidak pandai berakting pura-pura
hatiku, kau begitu keras kepala dan bodoh, inginmu apa?
"